Get 4Shared Premium! TrialPay Referral Program

Jumat, 29 Juni 2012

MAHADEWA


Guys, nama Mahadewa mungkin belum setenar Andra & The Backbone meski keduanya sama-sama besutan Republik Cinta Management (RCM) yang dipimpin pentolan Dewa 19 Ahmad Dhani.Mahadewa kali ini ikutan menggebrak panggung LA Lights Indiefest Festive Sound di Stadion Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Penampilan band ini juga keren banget apalagi kalo kita liat ada Dhani ikut ngawal band asuhannya ini.Nah sebelum manggung, bos RCM itu ngaku kalo pembentukan band Mahadewa sebenarnya punya cerita sendiri.Perlu loe tahu ya, Mahadewa dibentuk pasca keluarnya Once. Secara jujur Dhani menyatakan masih terus menunggu mantan vokalisnya, Elfonda Mekel alias Once jika suatu saat nanti memutuskan kembali ke Dewa 19.“Platform Mahadewa 100% Dewa 19. Saya masih menunggu Once kembali suatu hari. Kita milih Judika juga karena suaranya tinggi mirip Once.”Keterikatan Dhani dengan Once memang sangat beralasan karena konon nih, alasan keluarnya Once mundur dari Dewa 19 karena Dhani sudah tak memperhatikan Dewa lagi. Apalagi, personel Dewa masing-masing sibuk dengan proyeknya masing-masing.Andra sibuk dengan ‘Andra and The Backbone’ sedangkan Yuke juga memiliki kesibukannya dengan band bentukannya tersebut. Sementara itu, Dhani sibuk mengurus artis-artis Republik Cinta Manajemen dan juga dengan band barunya, Triad.Mau mengatasnamakan Dewa juga tidak bisa karena Andra juga belum menyatakan keluar dari Dewa. Yah, inilah Mahadewa. Semoga Mahadewa berhasil memberi warna baru di blantika musik anak negeri ini ya!

LA Lights Meet The Labels 2012 #Banjarmasin


Kesempatan untuk bisa bertemu dengan label nasional kembali digelar. LA Lights Meet The Labels 2012 akan memberikan kesempatan bagi musisi Banjarmasin pada 7 Juli nanti..
Bagi Banjarmasin, kesempatan ini sangat menjanjikan. Bercermin pelaksanaan tahun lalu, band Lyric asli banua berhasil keluar sebagai juara nasional dan kini sudah masuk dapur rekaman. Milik Siapa merupakan single yang kerap kali tayang untuk iklan di sejumlah televisi swasta nasional.
Untuk pelaksanan di Banjarmasin akan dilakukan audisi pada 7 Juli mendatang mengambil tempat open space Unlam. Cukup mudah memang untuk bisa ikut audisi. Peserta cukup menyerahkan CD demo band, duo maupun solo ke GNB Jl Sutoyo S.
Menariknya lagi, ajang kali ini dipastikan akan dihadiri wakil dari Aquarius, Warner Music Indonesia, Seven Music, Alfa Records, E-Motion dan Trax. Label-label terkenal ini datang dan akan melihat langsung aksi musisi banua.
"Ini keuntungan ikut The Labels. Kita tak perlu susah memperlihatkan demo bermusik dengan label terkenal. Kali ini, label tersebut yang akan melihat langsung," beber Cecef, gitaris Lyric band memberi masukan.

Andika dipecat


Untuk meluruskan kabar bahwa dia mengundurkan diri dari band yang sudah membesarkan namanya, Andika menggelar jumpa pers. Dikabarkan dia mengundurkan diri dari sebagai vokalis Kangen Band per 21 Juni 2012 lalu. Tapi dalam jumpa pers tersebut Andika membantah telah mengundurkan diri. Menurutnya itu sesuatu yang tidak mungkin mengingat perjuangan dirinya bersama rekan-rekannya di Kangen Band."Aku enggak mungkin mengundurkan diri dari Kangen Band, karena Kangen Band dari awal kan aku yang bentuk. Enggak mungkin kalau aku keluar dari band yang aku bentuk sendiri. Aku ngerasain perjuangan kita dari bukan siapa-siapa menjadi siapa", paparnya. Memang beberapa bulan sebelumnya, Andika mendapat surat pengunduran diri dari pihak label Warner di mana Kangen Band bernaung, tapi surat itu tidak pernah ditandatanganinya. Intinya Andika dipaksa mengundurkan diri, tapi dirinya menolak.Tapi apa mau dikata, teman-teman seperjuangannya di Kangen Band, setelah apa yang mereka lalui selama bertahun-tahun merintis bersama, setuju jika Andika diberhentikan secara sepihak. Tanpa sepengetahuan Andika, seluruh personil Kangen Band menandatangani surat pernyataan itu.Jelas hal tersebut sangat mengejutkan pemilik nama lengkap Maesa Andika Setiawan. Pasalnya selama ini hubungan mereka tidak pernah ada konflik, bahkan hingga kini mereka masih komunikasi. Kabar pemecatan dirinya, dia ketahui setelah menyaksikan tayangan infotainment yang memberitakan kabar tersebut."Harusnya sih ngobrol baik-baik kalau ada masalah, soalnya aku sendiri enggak tahu ada kabar pengunduran diri sampai pas nonton TV", tutupnya

Kamis, 28 Juni 2012

Nasib toko kaset


Mendengar informasi dari seorang kawan bahwa ada beberapa album lawas dari group band musik legendaris, Koes Plus, yang direkam ulang, saya langsung hunting untuk membelinya. Namun hunting album ini tidak seperti "perburuan" sebelumnya, dimana saya langsung mendatangi toko khusus CD/kaset. Biasanya saya sangat semangat untuk mengunjungi toko CD/Kaset "Duta Suara". Niat "berburu" kali ini sangatlah santai karena bisa membelinya di mini market dekat rumah sembari membeli gula, kopi, tisu dan sabun mandi. Oh, ya sebagai informasi, beberapa album Koes Plus yang dirilis ulang itu, saya punya aslinya dalam bentuk Vinyl (piringan hitam). Dan beberapa CD album yang saya beli tersebut, sebetulnya saya sudah mendengar semua lagunya lewat vinyl maupun kaset,namun entah kenapa saya juga ingin punya dalam format CD.
Di mini market tersebut saya membeli sejumlah album, selain Koes Plus, saya juga membeli Album terbaru band "Jamrud" dan band "Setia" (eks-ST12). Oh, ya selain album yang saya sebutkan, ternyata masih adalagi album dari band indonesia yang dijual di Mini Market tersebut.
Sejak terjadinya "revolusi" di dunia digital, sistem distribusi musik pun mengalami perubahan. Dahulu kita harus mencarinya di toko kaset/CD, saat ini kita bisa membayar secara online dan mendownload secara legal album kesukaan kita tersebut. Bagi yang ingin memiliki dalam bentuk fisik, bisa membelinya secara online, dan barang langsung sampai dirumah. Tidak hanya itu, untuk album-album dari band tertentu kita juga bisa membelinya lewat restoran ayam goreng cepat saji, sepeti Kentucky Fried Chicken (KFC).
Kini para label memiliki alternatif tempat penjualan baru, selain di toko kaset/CD. Dengan sistem bundling dengan paket makanan, album CD bisa cepat laris. Tidak cukup itu, dengan jumlah outlet KFC yang mencapai ribuan, distribus album tersebut jadi lebih mudah dan lebih merata.Terobosan metode penjualan lewat "Mini Market" ini lebih dahsyat lagi. Apalagi kita mengetahui sebaran Mini Market jauh melampui gerai ayam goreng cepat saji tersebut. Maraknya pembangunan Mini Market bisa menjadi peluang baru dalam distribusi album. Di Jakarta misalkan, mini market bisa kita jumpai dihampir sepanjang jalan. Bahkan antar mini market hanya berjarak 100 meter saja.Artinya daya jangkau masyarakat untuk membeli jadi lebih"dekat". Mereka tidak perlu bersusah-payah mempersiapkan diri dan datang mengunjungi toko CD/kaset. Untuk soal cost, konsumen jadi diberikan keringanan (lebih irit)
Kemudian bagaimana nasib Toko Kaset/CD yang khusus menjual barang-barang hasil rekaman tersebut? Apakah akan mati/tutup? Seiring dengan akan banyaknya model distribusi yang tergolong "ekstrim". Seorang kawan berceloteh, bisa jadi nanti CD dijual seperti orang menjual rokok dipinggir jalan. Hmm...bisa jadi ..:)
Yang perlu diketahui bahwa space yang dimiliki Mini Market sangat terbatas, mereka tidak mungkin "memajang" puluhan atau bahkan ratusan CD/Kaset di"rak" penjualan. Kecuali jka pemilik Mini Market menambah space untuk menjual album terbaru dari banyak band.Lalu bagaimana nasib toko CD/Kaset? Menurut saya, mereka masih akan eksis. Dengan space yang dimiliki mereka bisa memuat album dari puluhan dan bahkan ratusan. Mereka juga bisa memuat album-album Legend atau yang menjadi album koleksi kolektor. Dengan update album setiap minggu, bulan atau tiga bulanan, toko CD/Kaset harus rajin-rajin mempromosikan album terbaru dan koleksi album lainnya, sehingga akan mengundang pembeli datang. Tidak cukup itu, Toko CD/Kaset juga harus melakukan layanan paripurna yang memudahkan konsumen untuk bertransaksi, misalkan dengan melakukan penjualan secara online, via official website. Dengan demikian, pembeli tidak hanya datang dari
satu lokasi, namun juga dari lokasi yang berjauhan, antar pulau dan antar benua.
Bagi penyuka musik seperti saya, hadirnya album yang bisa dimiliki dalam format digital, belum bisa memuaskan rasa "kepemilikan". Saya harus memilikinya juga secara fisik. Ada semacam perasaan puas jika saya memiliki album yang bisa dipegang, dibaca dan dipajang dan dipandangi. Apalagi album dari band yang secara kreatif mencetak bentuk fisiknya. Misalkan dalam soal packaging dan desain. Jika desain dan packaging dari album tersebut "Ciamik" maka dipastikan akan banyak yang tertarik untuk membeli secara fisik. Saya tergolong penyuka CD/kaset seperti dalam format yang aneh-aneh dan kreatif. Dalam sebuah kesempatan, saya Kadang mengunjungi toko CD/Kaset saya membeli dan album dari salah satu band yang kurang saya sukai, namun karena format desainnya bagus saya menjadi kepincut untuk memilikinya.
Dengan metode penjualan album yang kreatif, sangat mungkin bisa mengurangi angka pembajakan. Bagi mereka yang gemar dan menjadi salah satu fans band tertentu, sangat tidak sudi untuk membeli album bajakan band yang digemari tersebut. Apalagi jika album tersebut dilengkapi dengan privat item lainnya, seperti sampul yang ditandatangani, atau album yang dijual dengan bundling merchandise lainnya, seperti syal, T-shirt, juga pin.
Dengan sistem penjualan yang menyasar "lebih dalam" lagi kepada konsumen,baik dalam hal pola distribusi dan kreativitas "kemasan", para musisi seharusnya tidak takut lagi untuk dibajak. Mereka juga jangan segan-segan membangun kemitraan dengan pihak lain dalam soal distribusi, sehingga ketika mereka meluncurkan album hari ini, besok para penggemar dan penikmat musik sudah bisa membelinya di toko-toko terdekat dengan harga yang sangat terjangkau. Dan jangan ketinggalan, para musisi dan label juga jangan henti-hentinya melakukan kampanye anti-pembajakan. Dengan demikian para musisi bisa lebih kreatif lagi mencipta tanpa takut "patah arang" hasil karyanya akan dibajak.

260 musisi di PRJ


"Nasionalisme" akan menjadi tema panggung musik Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2012 yang akan digelar 14 Juni-15 Juli mendatang. Sedikitnya 260 musisi akan tampil, diantaranya Once, Mulan Jameela, Maia, Cokelat, Geisha, The Virgin, Ungu, Agnes Monica, Glenn Fredly, Ello, Tompi, Mahadewa, SM*SH, Rio Febrian, Ari Lasso, Superman is Dead, Maliq n D' Essentials, Iwan Fals, Pas Band, Zivilia, d' Massiv, Afgan, Cherry Belle, Vierra, Slank, Sheila on 7, Nidji, Kotak, Triad, Wali, dan masih banyak yang lainnya.
"Para musisi nantinya akan membawakan lagu-lagu nasional. Diharapkan jika artis besar bawakan lagu nasional bisa membangkitkan jiwa nasionalisme mereka," ujar Oki Setiawan
Ajang yang diberi nama Konser Musik Jakarta Fair (KMJF) 2012 akan ditampilkan dalam dua panggung yakni Panggung Utama yang didukung dengan sound system dan lighting berkualitas, serta panggung Gambir yang memiliki desain lebih santai.
Untuk panggung utama sendiri, KMJF akan menampilkan berbagai genre musik, yakni rock, metal, pop, ska, reggae, jazz, punk, altenative dan lainnya. Tahun ini Konser Musik Jakarta Fair 2012 menyuguhkan penampil baru seperti Cherrybelle, Setia Band dan penampilan spesial Ayu Ting Ting.
"Dari sisi artis ada perubahan, panggung juga. Kita cari artis yang paling terkenal dan ngetren tapi juga berkualitas. Ada juga band yang selama 6 tahun berturut-turut terlibat di PRJ seperti Slank," ujar Prajna Murdata.
Selain itu yang membedakan konser musik ini dengan tahun sebelumnya adalah khusus di tahun ini akan ada lebih banyak tempat duduk agar lebih nyaman menikmati musik yang disajikan.
"Akan banyak tempat duduk tribune. Kita mau membawa masyarakat menyaksikan konser jadi lebih berbudaya. Jadi kita kasih tempat duduk, apalagi buat ibu-ibu dan anak-anak. Kasihan juga kalau harus berdiri terus-terusan," lanjut Oki Setiawan.

Kandang Jurang Doank


"Tidak ada manusia yang tidak menari," senandung Dik Doank. Pengejawantahan dari makna lagu tersebut adalah musisi yang menari dengan nada-nada yang dilantunkan, penulis menari dengan kata-kata, maupun penonton menari dengan tepuk tangan. Dik Doank pun mengajak penonton yang memenuhi Gedung Kesenian Jakarta pada hari Rabu, 27 Juni 2012, malam untuk membuat harmonisasi dengan bertepuk tangan.

Dik Doank tidak tampil sendiri. Di konser bertajuk "Main" ini, pemilik nama Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denada Kusuma ini tampil bersama anak didik Kandank Jurank Doank (KDJ). KDJ merupakan sebuah komunitas kreativitas anak-anak yang didirikan Dik Doank pada tahun 1993 di kawasan Jurangmangu, Ciputat, Tangerang.

Sepanjang pertunjukan, Dik Doank tak hentinya menyelipkan makna dalam setiap tutur dan lirik lagu yang dihantarkan. Betapa indahnya masa anak-anak yang bebas bermain di lagu "Main Di Luar". Asiknya bermain hujan sambil menyanyikan "Mandi Hujan". Suasana pedesaan yang dihadirkan di panggung pun melebur dengan lagu "Peniup Seruling". Tidak lupa akan pentingnya melestarikan huan dan lingkungan ketika "Penebang-Penebang" disenandungkan.
Dik Doank pun mengungkapkan tentang makna hidayah bagi manusia. Sebuah kaleng rombeng yang dibuang sembarangan menjadi latar belakang ceritanya. Ada yang memandang kaleng tersebut sebagai sampah namun ada pula yang menggunakan kembali, salah satunya menjadi alat musik. Sekelompok anak pun kemudian hadir memainkan nada-nada perkusif melalui kaleng rombeng tersebut. Semakin menarik dan indah ketika gelas-gelas plastik pun turut dimainkan sambil menyanyi lagu anak-anak "Heli".
Ketika menyinggung tentang dunia pendidikan, Dik Doank bernostalgia mengenang "permusuhan" dengan guru matematikanya. Siapa sangka lagu bernada olokan yang ditujukan untuk gurunya tersebut kemudian menjadi "penyelamat" ketika menggarap album pertama yang kekurangan lagu. Serta sebuah berkah pula ketika nada lagu tersebut dipakai untuk jingle sebuah produk minuman kesehatan yang mengantarkan Dik Doank ke tanah suci Mekkah di usia muda.
"Garuda" menguraikan keprihatinan pria yang pernah membuat cover album Atiek CB, Chrisye, Broery Pesulima, Nike Ardilla, Ebiet G. Ade, Koes Plus dan AB Three tentang nasib lambang negara yang teronggok tersiakan. Dik Doank mengajak penonton untuk menjaga Jakarta melalui "Jangan Biarkan Jakarta". Melalui lagu "Nonton Bola", dia mengajak mengambil filosofi akan pentingnya berbagi dan kerja sama bagi manusia.
Satu hal lagi yang selalu disampaikan Dik Doank dalam konser ini adalah tentang makna hidup dan ketuhanan. Disampaikannya hal tersebut dengan contoh-contoh yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari dalam bahasa yang sederhana. Tidak ada kesan menggurui ketika pelantun lagu "Pulang" ini menjelaskan makna ketuhanan tersebut yang bisa diambil darimana saja, bahkan dari sebuah pertandingan bola.

Cerita Cherry Belle


Sepertinya kini semua orang tahu kelompok vokal yang bernama Cherry Belle. Saya memberikan nama kelompok vokal, karena semua personel menyanyi dan menari di panggung. Tidak ada satupun diantara mereka yang memainkan alat musik. Kelompok vokal yang digawangi remaja putri usia, 15-21 tahun ini menjadi ngetop karena mengadopsi kelompok vokal negeri ginseng, Korea Selatan. Negara ini juga sukses mem-booming-kan K-POP ke penjuru dunia, tidak kecuali Indonesia. Gayanya yang lincah ditambah dengan kostumnya yang seksi membuat banyak remaja putri Indonesia meniru dan mengidolakannya, sementara remaja putra tidak sedikit pula yang "mendadak" menyukainya.
Usia group vokal ini tergolong sangat muda, karena baru berusia 1 tahun (didirikan tanggal 27 Februari 2011). Kemunculan mereka begitu menghentak panggung hiburan Indonenesia, karena usia yang relatif muda, terkenal dan dibanjiri dengan fulus.
Cherry Belle yang dibentuk oleh Dino Raturandang dan Teguh Sanjaya, setelah melalui proses audisi, digawangi oleh 9 personel: Angel, Anisa, Cherly, Christy, Devi, Felly, Gigi, Ryn, dan Wenda. Beberapa bulan setelah terbentuk, mereka langsung membesut album "Love is You, dengan single "Dilema", kemudian tahun ini (2012), Cherry Belle meluncurkan single "Love is You" yang juga menjadi sebuah judul film yang dibintangi oleh mereka.
Tenar dengan cepat, manajemen Cherry Belle terus menata diri. Mereka tentu sangat menyadari, ditengah persaingan group vokal yang sengit sangat sangat mungkinkan jika umur kelompok vokal remaja putri ini bisa seumur jagung saja. Padahal, secara bersamaan karir mereka sedang gemilang dan ditaburi ketenaran. Ibarat aji mumpung, mereka selalu "melahap" tawaran-tawaran pentas, juga tawaran menjadi bintang iklan, yang nilainya mencapai milyaran rupiah. Sungguh menggiurkan bagi anak remaja seusianya.Mengutip ucapan seorang kawan wartawan "Potensi rupiah didepan mata Cherry Belle, mereka tinggal disabet saja, pasti dapat!"
Tentu saja, pengagas Cherry Belle sangat menyadari mereka masuk kedalam sebuah industri kapitaslis, yang mereka tempuh melalu jalur group vokal (menyanyi) dan musik. Dengan nilai kapitalisasi yang mereka bangun, sangat memungkinkan pertemanan yang dibangun oleh para personel dari awal bisa menjadi luntur. Ujungnya, sudah bisa ditebak. Manajemen Cherry Belle bulan lalu memecat dua personelnya, Devi dan Wenda, dengan alasan usia mereka sudah tidak muda lagi, alias tua. Dalam bahasa budaya populer, eksistensi kedua personel tersebut bisa melunturkan "brand image" cherry Belle yang sedari awal dibangun dengan kredo "kapitalis.
Adakah kekecewaan? Sudah pasti. Dua personel Devi dan Wenda hanya bisa pasrah dengan kesepakatan Manajemen. Padahal, jika kita mengacu pada kualitas menari dan bernyanyi, kedua orang ini masih layak. Namun sayang, sepertinya mereka tidak layak lagi "dijual" dan sudah sangat "basi" untuk masuk dalam industri panggung sekelas Cherry Belle. dan semua ketentuan sudah termaktub dalam AD/ART Cherry Belle.
Kasus yang dialami Cherry Belle ini menjadi satu serpihan mozaik perjalanan musik dan dunia hiburan Indonesia yang sudah diselimuti oleh misi kapitalisasi. Mumpung masih ada penggemar, mumpung masih laku dijual, mumpung personelnya masih muda, dan sejuta alasan mumpung lainnya.
Jaman memang sudah berubah. Jaman dahulu, ketika band atau kelompok vokal dibangun, diawali dengan modal kesamaan "kesukaan"akan musik, kemampuan (skill) dan nilai-nilai perkawanan sejati. Kekompakkan dibangun dengan asas kebersamaan, sama-sama senang dan sama-sama susah. Maka tidak mengherankan ada banyak band dan kelompok vokal yang masih solid. Kita mengenal Dara Puspita, Kendedes, dan Pattie Bersaudara.
Peristiwa yang dialami Cherry Belle bisa menjadi pelajaran dan pengalaman bagi siapapun yang ingin membangun kelompok vokal dan Band. Diawal mereka harus memilih dan menentukan, apakah ingin berkarir untuk mendapatkan keutungan finansial diawal, atau ingin bersama-sama mengejar ketenaran, dengan situasi dan kondisi, susah-senang dilakoni bersama-sama.