Get 4Shared Premium! TrialPay Referral Program

Selasa, 30 Oktober 2012

lokananta

Hari ini studio sekaligus label rekaman pertama milik Indonesia, Lokananta merayakan ulang tahunnya yang ke-56. Label yang berdiri sejak 29 Oktober 1956 itu mungkin generasi muda banyak yang tidak tahu studio bersejarah ini.
Oleh karena itu, para pecinta musik Indonesia  menggalang kampanye yang bertajuk #savelokanta. Beberapa waktu lalu penyanyi Glenn Fredly merilis album DVD Live yang bertajuk Glenn Fredly & Bakucakar Live from Lokananta.
Glenn hingga sekarang ini memang getol berkampanye dengan berbagai cara untuk mengangkat kembali Lokananta jadi warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan.
Studio bersejarah ini memiliki rekaman Indonesia Raya. Studio yang terletak di jalan Ahmad Yani 387, Solo ini memang menyimpan banyak sejarah perjalanan musik Indonesia dan bisa dikatakan sebagai titik nol musik Indonesia.
Dalam perjalanan sejarahnya, musisi-musisi seperti Gesang, Titik Puspa, Waldjinah, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, Bing Slamet, Idris Sardi dan masih banyak yang lainnya pernah melakukan rekaman disana. Ada lebih dari 40 ribu piringan hitam musik tradisional diseluruh Indonesia berada di sana.
Ribuan master rekaman berbagai genre musik, dari mulai pop, kroncong, hingga jazz sejak tahun 50-an hingga 80-an disimpan di sana. Bahkan, master rekaman pidato proklamasi Soekarno juga tersimpan disana.
Sayangnya seiring dengan waktu, kisah kejayaan Lokananta kian menghilang. Hampir semua dokumen berharga yang tersimpan di sana kondisinya sudah kurang layak karena minimnya dana yang dimiliki oleh Lokananta. Beberapa koleksi pun dijual secara terpaksa kepada kolektor untuk biaya operasional.
Selain Glenn, grup musik White Shoes and The Couples Company juga merekam ulang lagu-lagu mereka untuk mengenalkan kembali kepada generasi muda Indonesia agar peduli dengan Lokananta.
Diharapkan, program ini nantinya dapat membuat anak-anak muda semakin mengenal dan peduli pada Lokananta serta bisa menjadi komunitas guyub yang melakukan berbagai aktivitas positif secara rutin. Indonesia akan kehilangan rantai informasi mengenai sejarah musik dan budaya Indonesia jika Lokananta tidak segera diselamatkan.

Andra & the backbone

Banyak yang mengira jika band Andra & The Backbone beraliran rock. Namun, mereka menegaskan jika dirinya adalah band pop.
Band yang terdiri dari Dedy (vokalis), Andra Ramadan (gitar), dan Stevie Item (gitar) itu mengaku sejak pertama keluar, mereka selalu mengatakan jika Andra & The Backbone adalah band pop bukan rock. Menurut mereka hal ini terjadi karena pada beberapa lagunya menggunakan distorsi rock.
"Kami dari album pertama keluar bilangnya ini band pop. Kalau orang bilang band rock, mungkin karena ada dua gitaris dengan beberapa lagu yang memang distorsi gitarnya kencang. Jadi orang nilainya ini band rock," ungkap Andra saat berbincang di Beer Garden, Jakarta, Senin (29/10/2012).
Andra menjelaskan jika mereka sudah nyaman dengan genre yang dipilihnya. Menurutnya, para personel Andra & The Backbone adalah penyuka musik pop, meskipun ada juga yang menggemari musik metal.
"Menurut aku sih kami sudah nyaman dengan genre kami ini, ya meskipun pop tapi ada sentuhan rock. Jadi ya Andra & the Backbone ya ini. Secara pribadi ya saya penyuka metal, tapi saya juga penyuka pop. Stevie juga metal tapi dia penyuka pop juga," imbuhnya.

Gilang ramadhan

Band Nera yang digawangi oleh Gilang Ramadhan menyuguhkan musik jazz dengan memasukkan unsur budaya dari Flores, Nusa Tenggara Timur, pada hari kedua Djarum Super Mild JakJazz 2012, di Istora Senayan, Sabtu malam.
Budaya dari Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut begitu kental terdengar terutama dari penyanyi Nera, Ivan Nestorman. Dia menyanyikan tujuh lagu, yang semuanya menggunakan bahasa manggarai.
Di panggung JakJazz, Ivan juga mempertunjukkan budaya memanggil angin lewat sebuah lagu yang berjudul 'Mai Muru Mai'. Menurut dia, ritual budaya tersebut sering dilakukan oleh nelayan-nelayan Flores.
"Ketika saya mencari penyanyi yang memang bisa bahasa Timor (manggarai), karena bagus," kata Gilang Ramadhan.
Bagi Gilang, suara nyanyian dari Flores punya ciri khas tersendiri dan tidak dipunyai oleh daerah lain di Indonesia. Terutama dalam hal aksen-aksen yang mengalun indah ketika dinyanyikan.
Gilang juga mengungkapkan bahwa dirinya dalam bermusik tidak terpatok pada budaya flores saja. Dia menjelaskan, setiap daerah mulai dari Aceh sampai Papua, semuanya punya keunikan tersendiri yang berpotensi untuk digabungkan dengan jazz.
"Selama itu masih enak, masih cocok gak masalah," kata pemain drum berusia 49 tahun itu.
Selain Gilang dan Ivan, Band Nera juga beranggotakan Donny Suhendra (Gitar), Adi Dharmawan (Bass), dan Khrisna Prameswara (Keyboard). Kelimanya sudah terbentuk dan konsisten menampilkan budaya Flores dengan balutan jazz sejak tahun 2002.

Jakjazz

Salah satu musisi  yang ditunggu penampilannya dalam panggung Djarum Super Mild JakJazz 2012 adalah Glenn Fredly. Glenn yang kelahiran Maluku ini tampil di hari ketiga ajang JakJazz.
Di awal penampilannya, Glenn mengajak pemain bass Yance Manusama dan solois Matthews Sayerz ke atas panggung untuk berkolaborasi di Stage 3. "Nggak lengkap rasanya kalau saya nggak ajak bintang tamu untuk naik ke atas panggung, Yance Manusama!" kata Glenn.
"Saya juga akan mengajak adik saya, Matthews Sayerz," tambah Glenn yang berpakaian serba putih itu.
Suasana panggung pun bertambah panas dengan adanya kolaborasi Glenn yang didampingi The Bakuucakar bersama Yance dan Matthews.
Di tengah-tengah lagu, Glenn pun memberikan kesempatan kepada Yance untuk memainkan solo bass. Solo bass Yance lantas diiringi pemain bass The Bakuucakar Bonar Abraham.
Tak ketinggalan solo scat singing pun ditampilkan Matthews, diiringi permainan saksofon 'gila' ala the bad boy Nicky Manuputty.
Penonton pun terbawa suasana dan ikut bergoyang selama lagu dimainkan. Berkali-kali solo bass Yance dan scat singing Matthews mendapatkan riuh tepuk tangan dan teriakan histeris dari penonton yang memadati arena Stage 3.
"Yance Manusama everybody! Matthews Sayerz! Gokil!" pungkas Glenn di akhir kolaborasi. Dalam penampilannya malam ini, Glenn bersama The Bakuucakar menampilkan beberapa lagu seperti Happy Sunday, Pelangi, Cukup Sudah, Kau, Tega, Blues untuk Asmara, dan Timur.
Ini adalah kali pertama Glenn bersama The Bakuucakar tampil di gelaran JakJazz.
"Saya nonton JakJazz dari saya kecil. Terima kasih buat Om Ireng Maulana, semangatnya luar biasa. Saya setuju dengan Om Benny Likumahuwa, jazz is attitude. Saya lahir dan besar dari musik pop, tapi saya banyak terinspirasi dari jazz," ungkap Glenn.

17 th Naif

David, emil, pepeng dan jarwo
bermain bersama
didalam satu band
tahu kah kamu nama band nya?

Berawal dari tujuan "mulia" hendak mengerjakan tugas kuliah bersama, beberapa orang mahasiswa tingkat satu kelas pendidikan dasar Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bergantian menginap di rumah teman. "David" Bayu Danang Jaya , Franki "Pepeng" Indrasmoro Sumbodo, dan Fajar "Jarwo" Endra Taruna adalah beberapa di antaranya yang kemudian malah "terjerumus" bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi semalam suntuk daripada mengerjakan tugas.
Buntut dari keisengan membuat berkembang pada seringnya menyewa studio untuk latihan dan menyanyikan lagu buatan mereka. David, Pepeng, dan Jarwo yang bertahan dari formasi awal kemudian menyertakan Mohammad "Emil" Amil Hussein dan Chandra Wirawan Sukardi. Mulailah mereka unjuk gigi di kampus dengan mengusung nama NAIF dan menghasilkan lagu-lagu lain. 22 Oktober 1995 ditetapkan sebagai kelahiran NAIF.
Setelah mencapai usia sewindu, Chandra memutuskan berpisah dengan NAIF. Personil yang ada memutuskan untuk tetap berjalan untuk mewarnai belantika musik Indonesia dengan karya idealis ala Naif. Dan kini telah 17 tahun NAIF tetap konsisten menelurkan karyanya.
Sebuah perayaan sederhana bertajuk 17th anNAIFersary David, Pepeng, Emil & Jarwo Bermain Bersama Di Dalam Satu Band digelar di Hard Rock Cafe Jakarta pada Senin (22/10/2012). KawaNAIF berbondong-bondong datang untuk bersama-sama bergembira merayakan grup band yang telah menghasilkan 10 album ini.
Di awal penampilan, David yang biasanya tampil "gila" terlihat emosional. Ini berimbas pada penampilannya yang lebih kalem. Tentu "kalem" dengan ukuran standar David. "Gue benci kalau seperti ini. Bukan gue banget nih," aku David sambil menahan haru. Dua lagu pembuka, "Piknik 72" dan "Jikalau", disambar oleh KawaNAIF dengan bernyanyi bersama karena David lebih memilih terdiam. Emosional.
Tapi jangan tanya satu jam setelahnya. Keran "kegilaan" David akhirnya terbuka lebar dan "mengucur" dengan derasnya. Celotehan khasnya mulai bertebaran. Dilengkapi pula dengan aksi panggung gila-gilaan. Gerakan ala Elvis Presley. Hingga mengusili Jarwo yang tengah memainkan gitar. Sampai tiduran di panggung. Di lagu "Ajojing" David bahkan turun dari panggung menghampiri penonton untuk mengajak berajojing alias bergoyang bersama. KawaNAIF bersama-sama membopong David untuk dikembalikan ke atas panggung. NAIF bermain dengan lepas. Tidak ada persiapan berupa repertoar lagu yang sudah disusun rapi. Melainkan memainkan lagu apa saja yang diminta oleh kawaNAIF pada saat itu juga. Alhasil teriakan-teriakan lagu yang ingin dibawakan memenuhi Hard Rock Cafe Jakarta. Termasuk pula lagu-lagu yang jarang NAIF bawakan. Tak heran bila kesalahan memainkan nada sampai kekhilafan lirik menjadi hal lumrah. Gelak tawa kerap menghiasi.
Dengan bebasnya pula David mengucapkan rasa terima kasihnya mewakili rekan-rekannya kepada siapa saja yang telah mendukung NAIF selama ini. "Tanpa kalian semua, kami tidak akan ada artinya," ucap David sambil bersenandung. KawaNAIF pun tentu berterima kasih atas karya-karya apik yang telah dihasilkan NAIF.
"Mobil Balap" yang menjadi lagu pertama memperkenalkan NAIF pada belantika musik Indonesia didapuk sebagai pamungkas konser penuh keceriaan ini. Tak terasa 32 lagu telah dikebut selama durasi hampir tiga jam yang nyaris menyentuh pukul satu malam.
Teruslah melaju kencang di "sirkuit" musik indonesia. Mobil balap NAIF belum mencapai garis finish. Masih ada banyak tantangan untuk menghasilkan kembali lebih banyak karya di tahun-tahun berikutnya.

Iwan fals bersama Superman Is dead

Iwan Fals bersama "Superman Is Dead"  mengguncang Denpasar lewat penampilannya dalam konser akbar yang diselenggarakan oleh Koperasi Ekonomi Rakyat Nusantara (KERAN) di Stadiun Ngurah Rai, dijadwalkan pada Sabtu (27/10). 
"Saya akan membawakan sekitar 20 lagu dengan durasi sekitar 1,5 jam," kata Iwan Fals, musisi legendari Indonesia, di Denpasar, Kamis.Lagu yang akan disuguhkan dalam konser tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para penggemarnya, seperti "Bento", "Pesawat Tempur" dan "Sampah". Karya musik itu sudah melegenda dan banyak diketahui oleh berbagai kalangan dan generasi. Selain membawakan lagu hits yang melegenda tersebut, Iwan juga akan berkolaborasi dan tampil bersama grup band ternama Pulau Dewata, Superman Is Dead (SID).
"Saya merasa sangat tersanjung karena bisa tampil dengan SID. Karya musik dan perjuangan penjualan barang-barang oleh band itu perlu diacungi jempol," ujarnya.
Dia mengatakan, rencananya tiga lagu yang dibawakannya akan berkolaborasi dengan SID, sedangkan 17 sisanya dibawakan sendiri bersama rekan-rekannya, yakni Totok Towel (gitar), Raden (drum), Feri (bas), dan Edi Daromi (keyboard).
Pada kesempatan yang sama, Iwan Fals mengatakakan bahwa dirinya tengah  mempersiapkan album terbarunya yang rencananya dirilis pada pertengahan 2013, sebab banyak kesibukkan dan jadwal konser.
Musik yang akan saya suguhkan pada album baru itu lebih minimalis dengan tema yang masih sedang dipikirkan," ucapnya.Sementara itu, Ingkirawang Heru Kuncoro dari KERAN mengatakan, pihaknya menargetkan konser bakal berlangsung spektakuler dan mampu memberikan hiburan yang berbeda. 
"Kami targetkan jumlah penonton yang bakal menyaksikan mega konser ini sekitar 20.000 orang," katanya.

Ray d sky

Ray D’Sky telah merilis album keduanya, Dreaming Dreams pada tanggal 13 September 2012 masih bersama label Demajors. Berisikan total 12 lagu, album ini melalui proses kurang lebih selama dua tahun dimana proses rekamannya pun tidak jauh berbeda dengan album pertama, 1st Album Released by Reality.
Uniknya, penggarapan album kedua Ray D’Sky ini tidak hanya dilakukan di satu studio melainkan di beberapa pulau yang sering dikunjungi Ray D’Sky bersama timnya dengan membawa equipment mobile recording.
Diantara musisi yang ikut berkontribusi seperti Indra Q (B.I.P.), Ras Muhamad, Ucok Rz (S2B), ESQI:EF Syaharani, Richard D’Gilis, Rio Sidik, Njet Barmansyah (The Flowers) dan MSSFunkdelic (Dade).
Dreaming Dreams hadir dengan single pertama “Terjebak Di Pulau Yang Indah”, dimana videoklipnya pun sudah diluncurkan. Aray bercerita tentang pembuatannya, “Secara kebetulan pembuatan videoklip Lagu Terjebak Di Pulau Yang Indah bersamaan dengan event tahunan JAMMIN' ISLAND di pulau Gili Trawangan Lombok yang saya rasa lokasi dan suasananya sangat cocok untuk pembuatan videoklip ini. Mudah-mudahan bisa segera di kerjakan untuk videoklip selanjutnya yang saat ini masih dalam tahap pemilihan lagu yang cocok,” ungkapnya kepada TRAX (22/9).
Menurut Aray, hal yang paling berkesan dari album ini adalah, ”Saya bisa menulis dan menciptakan lagu untuk anak saya tercinta yang berjudul Hey Dylan.”
Aray Ray D’Sky sendiri sebelumnya bergabung dengan Steven & Coconuttreez . Hingga kini ia concern dengan gaya bermusiknya sendiri dibantu kedua rekannya Bongky 'B.I.P.' dan Didit 'Plastik', “Pencapaian yang sudah didapat selama ini senang dan membanggakan, diantaranya karya 1st Album Released by Reality yang konsumen dan pendengarnya cukup luas, baik penikmat musik di indonesia maupun manca negara walaupun masih dalam jumlah yang kecil, semoga bisa tetap tumbuh dan akan menjadi besar, Amien. Tetap semangat !,” tutup pria bergimbal ini.
Videoklip single “Terjebak Di Pulau Yang Indah” kolaborasi Ray D’Sky dengan Ras Muhamad dapat disimak melalui situs resminya Raydsky.com.
Berikut track yang ada di album Dreaming Dreams-Ray D'Sky:
"The Overture"
"Great Friend"
"Dreaming Dreams"
"Lets Santai For a While"
"Tak Perlu Sempurna"
"Terjebak di Pulau Yang Indah"
"Finding Peace"
"Coba Tolong"
"Hey Dylan"
"Nice to be Green"
"Take Your Time"
"Today"