Get 4Shared Premium! TrialPay Referral Program

Kamis, 28 Juni 2012

Cerita Cherry Belle


Sepertinya kini semua orang tahu kelompok vokal yang bernama Cherry Belle. Saya memberikan nama kelompok vokal, karena semua personel menyanyi dan menari di panggung. Tidak ada satupun diantara mereka yang memainkan alat musik. Kelompok vokal yang digawangi remaja putri usia, 15-21 tahun ini menjadi ngetop karena mengadopsi kelompok vokal negeri ginseng, Korea Selatan. Negara ini juga sukses mem-booming-kan K-POP ke penjuru dunia, tidak kecuali Indonesia. Gayanya yang lincah ditambah dengan kostumnya yang seksi membuat banyak remaja putri Indonesia meniru dan mengidolakannya, sementara remaja putra tidak sedikit pula yang "mendadak" menyukainya.
Usia group vokal ini tergolong sangat muda, karena baru berusia 1 tahun (didirikan tanggal 27 Februari 2011). Kemunculan mereka begitu menghentak panggung hiburan Indonenesia, karena usia yang relatif muda, terkenal dan dibanjiri dengan fulus.
Cherry Belle yang dibentuk oleh Dino Raturandang dan Teguh Sanjaya, setelah melalui proses audisi, digawangi oleh 9 personel: Angel, Anisa, Cherly, Christy, Devi, Felly, Gigi, Ryn, dan Wenda. Beberapa bulan setelah terbentuk, mereka langsung membesut album "Love is You, dengan single "Dilema", kemudian tahun ini (2012), Cherry Belle meluncurkan single "Love is You" yang juga menjadi sebuah judul film yang dibintangi oleh mereka.
Tenar dengan cepat, manajemen Cherry Belle terus menata diri. Mereka tentu sangat menyadari, ditengah persaingan group vokal yang sengit sangat sangat mungkinkan jika umur kelompok vokal remaja putri ini bisa seumur jagung saja. Padahal, secara bersamaan karir mereka sedang gemilang dan ditaburi ketenaran. Ibarat aji mumpung, mereka selalu "melahap" tawaran-tawaran pentas, juga tawaran menjadi bintang iklan, yang nilainya mencapai milyaran rupiah. Sungguh menggiurkan bagi anak remaja seusianya.Mengutip ucapan seorang kawan wartawan "Potensi rupiah didepan mata Cherry Belle, mereka tinggal disabet saja, pasti dapat!"
Tentu saja, pengagas Cherry Belle sangat menyadari mereka masuk kedalam sebuah industri kapitaslis, yang mereka tempuh melalu jalur group vokal (menyanyi) dan musik. Dengan nilai kapitalisasi yang mereka bangun, sangat memungkinkan pertemanan yang dibangun oleh para personel dari awal bisa menjadi luntur. Ujungnya, sudah bisa ditebak. Manajemen Cherry Belle bulan lalu memecat dua personelnya, Devi dan Wenda, dengan alasan usia mereka sudah tidak muda lagi, alias tua. Dalam bahasa budaya populer, eksistensi kedua personel tersebut bisa melunturkan "brand image" cherry Belle yang sedari awal dibangun dengan kredo "kapitalis.
Adakah kekecewaan? Sudah pasti. Dua personel Devi dan Wenda hanya bisa pasrah dengan kesepakatan Manajemen. Padahal, jika kita mengacu pada kualitas menari dan bernyanyi, kedua orang ini masih layak. Namun sayang, sepertinya mereka tidak layak lagi "dijual" dan sudah sangat "basi" untuk masuk dalam industri panggung sekelas Cherry Belle. dan semua ketentuan sudah termaktub dalam AD/ART Cherry Belle.
Kasus yang dialami Cherry Belle ini menjadi satu serpihan mozaik perjalanan musik dan dunia hiburan Indonesia yang sudah diselimuti oleh misi kapitalisasi. Mumpung masih ada penggemar, mumpung masih laku dijual, mumpung personelnya masih muda, dan sejuta alasan mumpung lainnya.
Jaman memang sudah berubah. Jaman dahulu, ketika band atau kelompok vokal dibangun, diawali dengan modal kesamaan "kesukaan"akan musik, kemampuan (skill) dan nilai-nilai perkawanan sejati. Kekompakkan dibangun dengan asas kebersamaan, sama-sama senang dan sama-sama susah. Maka tidak mengherankan ada banyak band dan kelompok vokal yang masih solid. Kita mengenal Dara Puspita, Kendedes, dan Pattie Bersaudara.
Peristiwa yang dialami Cherry Belle bisa menjadi pelajaran dan pengalaman bagi siapapun yang ingin membangun kelompok vokal dan Band. Diawal mereka harus memilih dan menentukan, apakah ingin berkarir untuk mendapatkan keutungan finansial diawal, atau ingin bersama-sama mengejar ketenaran, dengan situasi dan kondisi, susah-senang dilakoni bersama-sama.

Ari Pramundito


Setelah bersenang-senang dengan Gruvi dan menghasilkan 3 album dalam kurun rentang waktu 3 tahun, Ari Pramundito memutuskan hengkang pada media Februari 2012 lalu. Ari memutuskan untuk kembali hadir sebagai musisi solo. 2007 adalah lahirnya album solo perdana, Funk Me, yang menelurkan hits "Dicintai Untuk Disakiti" dan "Katakan Kau Cinta".
Di tahun ini, Ari pun meluncurkan album kedua, Ill Do. Masih kental dengan ciri khas musik sweet jazz, dibalut irama groove dan funk ditingkahi petikan gitar dan scat sing. Ari menyuguhkan 10 lagu di album ini, dengan salah satunya adalah instrumental berjudul "Yellow Trash".
Keseluruhan produksi memakan waktu 4 bulan dikerjakan dengan sangat memperhatikan kualitas. Moko dari Brother Land Studio dipercayakan untuk menjadi mixing engineer album yang banyak bercerita tentang cinta ini. Kemudian album ini diboyong ke Memphis Amerika untuk dibuat mastering. Tak mau tanggung, mastering engineer kelas Grammy, Brad Blackwood, didaulat untuk turun tangan. Maroon 5, Will.I.Am, Evanescene, Black Eyed Peas, Vannesa Carlton serta Sara Baeilles adalah beberapa nama musisi internasional yang pernah bekerjasama dengan Brad Blackwood.
Sebuah acara peluncuran album tersebut pun digelar di Fountain Atrium West Mall 3A Grand Indonesia pada Rabu, 27 Juni 2012, sore. Ari People (penggemar Ari) tampak turut hadir meramaikan. Tak mau tampil sendiri, Ari pun berbagi kebahagiaan dengan mengajak Kojek, Soulmate, serta Citra Scholastika menyanyi bersama di panggung. Tak ketinggalan Tompi yang pernah bekerjasama dengan Ari pun turut serta memeriahkan peluncuran album gitaris yang pernah menjadi pemenang utama gitaris terbaik di Festival Musik Pelajar Se-Jawa Bali pada tahun 1995.
Ari pun mengajak idolanya yang sama-sama merupakan penggemar berat George Benson. "On Broadway" milik peraih 10 Grammy tersebut dibawakan bersama Mus Mujiono. Keduanya pun saling berbagi nada, berdialog melalui petikan gitar serta scat sing. Terang saja sambutan meriah diberikan oleh penonton yang terhibur oleh aksi dua musisi dari generasi berbeda jaman tersebut.

ENERGI + DARI BUMI DAN LANGIT


Setelah sempat hengkang dari Jamrud, kehadiran kembali sang vokalis, Krisyanto, disambut hangat dengan diluncurkannya album terbaru mereka yang berjudul ENERGI + DARI BUMI DAN LANGIT, awal Maret 2012 lalu. Sebetulnya album ini merupakan daur ulang (recyle) dari album sebelumnya "Bumi & Langit Menangis" yang saat itu dinyanyikan oleh vokalis "cabutan", Donal dan Iwan Vox.Sudah tidak bisa disangkal lagi, nama Jamrud memang lekat dengan karakter vokal "berat"nya Krisyanto,maka tidak heran hengkangnya Krisyanto selama 5 tahun membuat para Jamers (sebutan penggemar Jamrud) merasa kehilangan. Dan kini, hadirnya album besutan produser Log Zhelebour seakan mengobati rindunya para Jamers akan kekompakkan band pujaan mereka. Berisi dua belas lagu : Ciaat, S.H.I.T (Seperti Hati Ini Terbakar), Sik Sik Sibatumanikam, Cerita Usang, The Devil Wears batik, Kontemplasi, Idiot, Sakit, Nangislah Negeriku, Sik Sik, Sibatumanikan (karaoke), The Devil Wears Batik (karaoke), Nangislah Negeriku (minus guitar), karakter musik Jamrud masih tampak lekat. Syair yang lucu dan nyeleneh menjadi andalan band yang digawangi: Azis Ms (Gitar), Krisyanto (Vocal), Ricky Teddy (Bass), Danny (Drum). Misalkan tembang Ciaat yang terinspirasi dari maraknya Boy Band Korea;..semalam ku berubah jadi sansak digampar orang kiri dan kanan, nyolek penyanyi korea, aku diseret 11 orang, jelas engga bisa lari..mukaku biru2 semua, gigi depanku rontok dua, meski hidungkku ngucur darah, tapi toh aku ga menyerah.. Kreativitas mencipta lagu oleh Aziz MS memang tidak ada "matinya". Inspirasi lagu yang diperolehnya dari kejadian sehari-hari menjadi andalan Jamrud yang kini berusia lebih dari 20 tahun. Selain tembang dengan syair cinta dan nyeleneh, Jamrud juga menyisipkan pesan moral dan politis, misalkan pada lagu " The Devil Wears Batik" dan "Nangislah Negeriku". Selain soal kreativitas mencipta, kesuksesan Jamrud tidak bisa lepas dari nama besar "Log Zhelebour" . Lewat tangan dingin produser musik ini, nama Jamrud semakin terangkat, misalkan saat album perdana Jamrud, Nekad (1995) yang meraih angka penjualan sebanyak lebih dari 100 ribu keping dalam waktu singkat. Kesuksesan mereka dilanjutkan dengan album kedua mereka, Putri (1997), yang angka penjualannya mencapai 200 ribu keping. Keuntungan besar dari hasil penjualan album-album Jamrud terus berlanjut hingga mereka merilis Terima Kasih (1999), hingga album Ningrat (2000) yang mencatat angka penjualan sebanyak satu juta keping dengan singel "Surti-Tejo" dan "Pelangi di Matamu".Yang berbeda dengan album sebelumnya, album terbarunya Jamrud dijual dengan mem-bundling album dengan sebungkus rokok dari sebuah perusahaan rokok ternama. Segi pemasaran kreatif ini patut diacungi jempol,apalagi pihak label menggandeng mini market "indomaret" untuk penjualan, sehingga penetrasi pasar bisa lebih "jauh". Sekalipun demikian, apakah penjualan album ini bisa mengulang sukses angka penjualan album sebelumnya? Kita tunggu saja hasilnya... Bravo Jamrud..Bravo Jamers.

Mahadewi


Ditengah pemberitaan mengenai pertukaran personel Mahadewi, mungkin sudah hampir dilupakan bahwa pada awal terbentuknya, grup vokal ini terdiri dari tiga personil dengan nama Dewi Dewi. Band ini lahir dari sebuah ajang pencarian bakat yang juga diusung Ahmad Dhani dengan tajuk Obsesi Dewa 19 Mencari Dewi-Dewi. Dari situlah muncul tiga penyanyi perempuan dengan karakteristik vocal yang berbeda satu sama lain. Shinta Dewi (Tata) dengan karaktek rock, Purie Andriani (Puri) dengan warna pop, dan Carolina Augustine Kamarie(Ina) pada jazz.
Dibawah naungan Republik Cinta Management milik Ahmad Dhani, tahun 2007 Dewi Dewi muncul dengan tembang hits Dokter Cinta dan Begitu Salah Begitu Benar. Hampir sebagian besar album perdana Dewi-Dewi yang bertajuk Recycle merupakan lagu lama dari band Dewa 19.
Keutuhan Dewi Dewi hanya berlangsung satu tahun setelah Ina mundur dari band tersebut lantaran tidak memiliki konsep musik yang sesuai. Awal tahun 2009, Puri dan Tata terus maju dengan menggunakan nama baru yang terus dipakai hingga kini, Mahadewi.
Debut Mahadewi dimulai dengan rilisnya album duo perdana mereka, Dewi Cinta. Setelah satu bulan sebelumnya hits Sumpah I Love You sudah rilis lebih dahulu. Pada akhir 2010, Mahadewi mendapatkan penghargaan untuk duo band terbaik dari Nagaswara Music Award.
Untuk yang kedua kalinya keutuhan vokal grup tersebut goyah. Beberapa waktu lalu dunia musik diramaikan dengan pemberitaan mengenai keluarnya Tata dari Mahadewi. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa personil dengan karakter vocal rock tersebut keluar lantaran jenuh.
Tidak lama setelah Tata hengkang, muncul nama baru untuk menjadi partner Puri dalam Mahadewi. Ialah Gwen Priscillia yang dipilih melalui sebuah audisi. Gwen yang berasal dari kota Malang dipercaya untuk membawa Mahadewi dengan gaya baru dan lebih baik.

konser Maha Karya Ahmad Dhani


"Tadi saya sempat berkaca-kaca," aku Dhani Ahmad Prasetyo atau dikenal sebagai Ahmad Dhani di jumpa pers selepas konser Maha Karya Ahmad Dhani di Jakarta Convention Center pada Rabu, 13 Juni 2012, malam kemarin. Peristiwa tersebut terjadi ketika Dewa 19 tampil di atas panggung dengan formasi Ari Lasso, Andra Ramadhan, Dhani serta Yuke dan Agung membawakan lagu "Restoe Boemi". "Saya jadi teringat masa lalu," kenang Dhani.
Ribuan penonton yang hadir tampaknya merasakan keharuan yang sama. Sudah sekian lama mereka tak pernah melihat Ari Lasso tampil di panggung dengan membawa bendera Dewa 19. Akibatnya, penonton pun bersorak gembira dan ikut bernyanyi dengan lantang. Begitu pun ketika akhirnya Once Mekel muncul dan langsung menyapa Baladewa dengan "Arjuna". Suasana semakin pecah. Tentu saja, bukan hanya Once dan Ari yang dihadirkan untuk membawakan karya-karya apik milik Dhani. Agnes Monica unjuk suara membawakan "Pangeran Cinta" yang malam itu berubah menjadi "Dewi Cinta" serta "Pupus". Vina Panduwinata menyanyikan "Lagu Cinta" dengan sangat baik. Setelahnya, "Di Dadaku Ada Kamu", dibawakan. Lagu tersebut bukan karya Ahmad Dhani, melainkan Dodo Zakaria. Namun pernah dibawakan ulang oleh Ratu ketika formasinya adalah Maia dan Mulan.
"Andai Aku Bisa" dipopulerkan oleh Chrisye dipercayakan untuk dinyanyikan oleh Afghan sebelum menyanyikan "Never Felt This Way" milik Bryan McKnight. Titi Dwi Jayanti kembali menyanyikan "Tak Akan Ada Cinta Yang Lain" yang juga pernah masuk dalam salah satu album miliknya. Sebelumnya, Titi berkolaborasi dengan Mahadewi di lagu "Begitu Benar Begitu Salah" di konser yang diselenggarakan oleh Blackrock Entertainment ini. Tiga jagoan Dhani yaitu Al, El dan Dul dibantu oleh dua keponakan membawakan lagu tradisional ala keluarga besar Ahmad Dhani. Sebuah lagu milik grup rock legendaris, Led Zeppelin, berjudul "Black Dog" pun membahana. Disusul dengan sebuah intro lagu rock klasik "The Final Countdown" milik Europe sebelum akhirnya masuk dalam lagu "Superman" yang dinyanyikan oleh The Lucky Laki.
Anak asuh di Republik Cinta Managemen sudah pasti dilibatkan. Selain Mahadewi, masih ada Mahadewa dengan Judika sebagai vokalis utama, serta T.R.I.A.D yang mengusung Dhani sebagai garda depan. Dhani membawakan lagu "Aku Cinta Kau dan Dia" yang termaktub dalam album Ahmad Band.
Biar pun masih hijau dalam dunia hiburan, namun sebuah kesempatan emas diberikan kepada 4 besar finalis Indonesian Idol 2012. Regina berduet dengan Judika menyanyikan "Cinta Mati 1". Lagu "Keabadian" pertama kali dibawakan oleh Reza Artamevia menjadi tanggung jawab yang dinyanyikan dengan baik oleh Sean. Dion bergoyang reggae ketika membawakan "Madu 3". Terakhir, "Cemburu" mengalun lancar dari pita suara Yoda.
"Kamulah Satu-Satunya" dinyanyikan oleh dua mantan vokalis Dewa, Once dan Ari Lasso. Lagu tersebut mengakhiri konser yang berlangsung nyaris empat jam ini. Tentu waktu yang sangat pendek untuk menghambur-hamburkan ratusan lagu yang telah dibuat oleh Dhani. Memang banyak lagu yang tidak dibawakan malam itu. "Karena memang sih banyak lagu saya yang bagus," canda Dhani. Sebuah kepongahan 'kah? Tentu tidak. Karena jutaan penikmat musik di Indonesia sudah diterpa oleh karya-karya bermutunya.

Benyamin on Jazz


Bila Anda ingin mendengarkan tembang betawi yang dibawakan Benyamin Sueb dalam komposisi Jazz. Album "Benyamin on Jazz" yang dilansir bulan lalu sangat layak Anda dengar. Kehadiran album "Tribut to The Legend" itu ternyata merupakan kado dari para musisi jazz muda kepada mendiang "Benyamin Sueb" saat Java Jazz Maret 2012 lalu.
12 Tembang Populer dirilis ulang dengan sangat apik oleh sejumlah musisi yang mencoba berkontribusi dengan merubah aransemen lagu menjadi sangat berbeda dari versi aslinya. Duabelas tembang betawi itu adalah "Paling Enak", "Nonton Bioskop","Perkutut", "Sang Bango", "Nangke Lande", "Janda Kembang", "Gerimis Aje", "Superman", "Badminton", "Keluarga Gila", "Kompor Meleduk", dan "Disini Aje/Timbel".
Diawali dengan lagu "Paling Enak" yang dibawakan dengan baik oleh Band asal Jakarta "Soundshine feat R2 Rhythm". Lagu banyolan Benyamin dirubah dengan sangat kreatif. Kombinasi irama jazzy yang dipadu dengan irama Rap besutan R2 Rhythm menjadi asyik untuk dinikmati, apalagi timpalan dua penyanyi Adrian Soemantadireja dengan Avia Athalia menjadikan lagu tersebut menjadi sangat berbeda dengan versi aslinya.
Hal yang sama juga terjadi dalam gubahan lagu "Nonton Bioskop". Grup band "Subway Heat" membawakannya dengan sangat rapi. Improvasi dimainkan dengan sangat dinamis, hingga nada-nada yang sulit diduga dan dihadirkan pada bagian tengah lagu, misalkan saat sessi "nge-jam" soundshine menaruh unsur keyboard membuat irama lagu tersebut menjadi lembut.
Lain lagi dengan "Perkutut" yang dibawakan dengan pola accoustic oleh Indra Aryadi. Indra yang sangat kental dengan permainan gitar akustiknya yang kemudian dikombinasikan dengan permainan bass solo-nya Zoultan Renaldi menjadikan "perkutut" terdengar lebih Jazzy. Pembawaan vokal "Britnets" yang bening dan lamban membuat unsur nada gombong-kromong tereduksi menjadi pola Jazz, dan bahkan vokal yang seperti Nyinden menjadikan "perkutut" menjadi lebih "Jawi" dari pada Betawi.
Tembang Benyamin "Sang Bango" dibawakan dengan nuansa Jazz yang dipadu dengan irama yang agak nge-beat. Permainan Violin Didiet patut diacungi Jempol. Pengalaman Didiet mengiringi sejumlah musisi senior Jazz seperti dwiki Dharmawan, Addie MS dan Erwin Gutawa sedikit banyak mempengaruhi pola gubahan lagu. Pola pindahan antar nada, dan beat-beat yang dimainkan, mengingatkan saya pada permainan musik Karimata.
"Gerimis Aje" yang coba dinyanyikan ulang oleh Inna Kamarie terdengar begitu menjadi lebih Softly dan sopan. Nada Jazz yang membalut lagu ini ditimpali sempurna dengan suara Inna yang tipis namun lembut. Dialog antar penyanyi pada pertengahan lagu yang biasa dibawakan Benyamin dengan Ida Royani, dibawakan sukses oleh Inna dengan model dialog yang dimodif dan terdengar lebih trendy dan funny.
Lagu kocak "Superman" juga sukses dibawakan oleh sang penggubah, Yessi Kristianto Project". Lagu yang memang ditulisan dengan syair campuran, inggris dan indonesia dibawakan dengan baik oleh Yessi Kristianto Projet dengan sangat bagus. Improvisasi yang keren, Nada-nada ang sangat Jazzy yang ditimpali dengan backing vokal menjadikan lagu superman ini menjadi beda dengan versi aslinya. Improviasi jazz dibawakan degan baik, permainan piano dengan synthesizer dimainkan dengan sangat apik yang ditimpali dengan permainan gitar yang mumpuni. Nuansa jazz sangat kental didalamnya. Vokalis Albert Fakdawer, sepertinya ingin melepaskan diri dari gaya vokalnya Benyamin. beberapa nada tinggi dimainkan dengan sangat baik.
Badminton yang dibawakan Krishna Balagita Trio menjadi tembang yang intrumen yang paling apik di album ini. Kepiawaian mantan personel "Ada Band" ini memainkan piano, menjadikan Badminton penuh dengan improvisasi permainan Krishna. Ditingkahpolai oleh permainan Drum Bani Abdurachman membuat lagu ini menjadi sangat kental dengan nuansa jazz-nya.
Dari sejumlah lagu karya Benyamin tidak semuanya dimainkan dengan baik oleh para musisi. Mengubah dengan improvisasi yang penuh dengan subjectivitas sang penggubah, kadang harus lebih diperhatikan saat lagu dimainkan dengan unsur dominan dari alat musik. Seperti yang terjadi dalam tembang "Nangka Lande" yang digubah Indro Hardjodikoro. Permainan bass yang sangat mumpuni dari seorang Indro dipadukan dengan suara kendang sunda yang sangat dominan menyebabkan suara bass menjadi tenggelam. Tidak hanya itu, "Nangke Landa" yang dibawakan dengan nada datar oleh penyanyi aslinya harus diterjemahkan dalam irama bass namun dalam besutan Kendang Sunda yang sangat ramai. Disini terjadi ketidaksinkronan dan menyebabkan distorsi suara. Sekalipun demikian, Indro berupaya menutupi kekurangan dengan solo bass pada bagian tengah hingga akhir lagu.
Tribute buat Benyamin tidak semuanya dibawakan dengan tingkat kemiripan 100 persen. Selain ada gubahan dalam hal musik, ternyata diubah juga dalam lafal dan ucapan lirik. Hal ini menyebabkan, lagu tidak lagi terlihat kekentalan logat Betawi namun terdengar lebih nasional. Misalkan yang terdapat dalam tembang "Janda Kembang" Lagu dibawakan dengan sangat lamban dan penuh dengan improvisasi. Lagu yang aseli betawi menjadi sedikit berubah karena perubahan lirik seperti "Janda" yang disering diucapkan oleh penyanyi aslinya "Jande", juga "Aye" menjadi "Saya"
Perubahan hasil improvisasi dalam Jazz memang sah-sah saja, namun bagi penggemar yang sudah terbiasa dengan lagu aslinya, hasil "gubahan" menjadi sangat asing didengar. Sekalipun demikian, album produksi RPM Recods ini sangat layak didengar dan diapresiasi sebagai karya Jazz yang kreatif oleh generasi muda yang mengidolakan bintang yang juga legenda musik Indonesia, Benyamin Sueb.

Hiburan Rakyat Nusantara


Koes Plus memang sudah lama terpecah menjadi dua kubu yaitu antara Yon Koeswoyo yang tetap berjalan dengan nama Koes Plus, sedangkan Yok Koeswoyo menggunakan nama Koes Bersaudara.
Lalu, apakah dalam perayaan 50 tahun Koes Bersaudara mereka semua akan berkumpul?
Yok mengatakan, dirinya dengan tangan terbuka menerima kedatangan Yon jika dia ingin datang dalam perayaan tersebut. Namun, Yok mengaku tidak pernah memberikan undangan secara resmi kepada personel Koes Plus lainnya.
“Sebetulnya kalau dia merasa rakyat nusantara harusnya hadir. Sekarang ini saya ditanya juga sama beliau-beliau kok enggak diundang, yah saya sih enggak nyebar undangan, kalau ngerasa rakyat ya hadir aja,” ungkap Yok saat berbincang di Kediaman Koes Bersaudara
Berbeda dengan Yok, Nomo Koeswoyo mengungkapkan jika Yon memang sudah tidak memungkinkan untuk hadir dalam acara perayaan 50 tahun Koes Bersaudara. Pasalnya, Yon kini disibukkan dengan kegiatan mengajarnya.
“Yon itu sekarang susah karena dia kan jadi guru gitu, enggak seperti kita yang bisa kemana-kemana. Dia dibebani dengan tanggungjawab. Saya rasa ini enggak memungkinkan bagi dia untuk ikut dengan kita. Tapi saya menghargai keputusan yang telah dipilihnya,” jelas Nomo.
Koes Bersaudara siap menggelar konser gratis bertajuk Hiburan Rakyat Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah pada hari Sabtu, 23 Juni 2012 kemarin.